Jumat, 01 Maret 2013

Bagaimana Memahami Hadits Terbaginya Umat Ini Menjadi 73 Golongan?


Sebenarnya pembahasan seputar hadits terpecahnya umat Nabi Muhammad saw ini cukup panjang, yang pernah kami gali dan pahami, terangkum pada point-point berikut:

Pertama:
Lafazh ummatku di situ bisa dimaknai umum mencakup seluruh manusia yang hidup sejak kenabian Muhammad saw, mengingat risalah beliau berlaku umum atas seluruh manusia. Bisa juga dimaknai khusus yaitu perpecahan terjadi hanya pada umat Islam saja.

Kami sendiri cenderung kepada memaknainya secara khusus yaitu umat islam, dengan alasan:

1. Jika dikatakan umat Muhammad saw di riwayat itu adalah semua manusia, tentu termasuk di dalamnya Yahudi dan Nashrani yang menurut pemberitaan Nabi saw masing-masing sudah terpecah menjadi 70 lebih golongan, sehingga jika digabungkan maka perpecahan sudah mencapai 140 golongan lebih, sedangkan umat beliau dikatakan akan terpecah menjadi 73 golongan, atau kurang atau lebih sedikit (di bawah 79).

2. Banyak riwayat dimana setiap kali Rasulullah saw mengatakan umatku atau dikatakan kepada beliau umatmu, maka yang dituju adalah kaum muslimin. Sebagai contoh pada hadits berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
Dari Abi Hurairah berkata, aku mendengar Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya umatku dipanggil di hari kiamat kelak dalam keadaan belang bercahaya karena bekas wudhu, barang siapa diantara kalian yang bisa memperpanjang belangnya, maka hendaknya dia melakukannya." (HR. Bukhari)

عن أبي هريرة يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول كل أمتي معافى إلا المجاهرين وإن من المجاهرة أن يعمل الرجل بالليل عملا ثم يصبح وقد ستره الله عليه فيقول يا فلان عملت البارحة كذا وكذا وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف ستر الله عنه
Dari Abu Hurairah berkata, aku mendegar Rasulullah saw bersabda: setiap umatku selamat (dari pembicaraan manusia) kecuali mereka orang-orang yang menampakkan secara terang-terangan, dan sungguh termasuk dalam aktivitas menampakkan secara terang-terangan adalah ketika seseorang berbuat maksiat di malam hari, dan di pagi harinya Allah swt telah merahasiakannya, namun kemudian dia berkata: wahai fulan, aku tadi malam melakukan ini dan itu. sungguh di malam harinya Allah swt telah merahasiakannya, namun di pagi harinya ia justru membuka rahasia tersebut. (HR. Bukhori)

عن ابن مسعود : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قيل له كيف تعرف من لم يرك من أمتك فقال انهم غر محجلون بلق من آثار الوضوء
Dari Ibn Mas'ud, bahwa Rasulullah saw dikatakan kepada beliau, bagaimana engkau mengenali siapa-siapa dari umatmu yang tidak permah berjumpa denganmu? beliau menjawab: Sesungguhnya mereka belang bercahaya dari bekas-bekas wudhu mereka. (HR. Ahmad)

3. Diantara riwayat shahih, ada yang mencantumkan bahwa iftiroq terjadi pada apa yang disebut oleh Rasulullah saw dengan sebutan hadzihil millah

عن معاوية قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ألا إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين وسبعين ملة وإن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون فى النار وواحدة فى الجنة وهى الجماعة ...
Dari Mu'awiyah berkata, Rasulullah saw bersabda: Ketahuilah siapa-siapa dari Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah menjadi tujuh puluh dua millah (agama), dan sungguh millah ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua diantaranya masuk neraka, sedangkan satu golongan masuk surga, mereka itu al-jama'ah... (HR. Abu Dawud dan Ad-Darimi)

Tentu yang dimaksud Rasulullah saw dengan ungkapan hadzihi al-millah di situ tidak lain adalah al-millah al-islamiyyah.

Ke-dua:
Digunakannya lafazh iftaroqot dan tafarroqot (fi’l madhi) untuk umat Yahudi dan Nashrani, atau untuk Ahli Kitab, atau untuk Bani Israil, dan digunakannya lafazh taftariqu (fi’l mudhori’) untuk umat Muhammad saw. Itu berarti iftiroq atau tafarruq pada Yahudi dan Nashrani/ bani isroil/ ahli kitab telah terjadi sebelum disabdakannya hadits tersebut dan sedangkan iftiroq atau tafarruq pada umat Muhammad saw baru akan terjadi sepeninggal Nabi saw. Ini diperkuat dengan bahwa lafazh taftariqu(تفترق) didahului dengan huruf sin “sa” (س)  yang berarti “akan …”, sehingga fi’l mudhori’ taftariqu di situ tidak bisa dipahami “sedang …”.

Sebagai konsekwensi lafazh tersebut maka iftiroq tidak bisa ditentukan secara pasti di suatu masa tertentu, karena kemungkinan terjadi perpecahan lebih banyak lagi di waktu berikutnya sangat terbuka lebar. Diantara ulama ada yang berusaha merinci 72 golongan sesat, dinukil oleh Imam Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis sebagai berikut.

قال الشيخ أبو الفرج رحمه الله فإن قيل وهل هذه الفرق معروفة فالجواب إنا نعرف الافتراق وأصول الفرق وإن كل طائفة من الفرق قد انقسمت إلى فرق وإن لم نحط بأسماء تلك الفرق ومذاهبها وقد ظهر لنا من أصول الفرق الحرورية والقدرية والجهمية والمرجئة والرافضة والجبرية .
وقد قال بعض أهل العلم أصل الفرق الضالة هذه الفرق الستة وقد انقسمت كل فرقة منها على اثنتي عشرة فرقة فصارت اثنتين وسبعين فرقة .
Berkata Syaikh Abu Al-Faraj rohimahullah, apabila dikatakan apakah kelompok-kelompok (dalam hadits 73 golongan) tersebut diketahui? maka jawabannya: sungguh kami mengetahui perpecahan dan pokok-pokok dari kelompok-kelompok yang ada, dan sungguh setiap dari kelompok tersebut terbagi menjadi kelompok-kelompok berbeda meski kita tidak mengetahui nama-nama serta aliran-aliran mereka. sungguh telah tampak jelas bagi kita bahwa pokok kelompok-kelompok tersebut adalah: Al-Haruriyyah, Al-Qodariyyah, Al-Jahmiyyah, Al-Murji'ah, Ar-Rofidhoh, dan Al-Jabariyyah.
dan telah berkata sebagian ulama, asal kelompok-kelompok sesat itu adalah enam kelompok ini, sunggung masing-masing dari kelompok tersebut telah terbagi lagi menjadi dua belas kelompok, maka kemudian jadilah tujuh puluh dua kelompok. (Talbis Iblis, 36)

(untuk lebih rincinya lagi, silahkan merujuk ke kitab yang kami sebut di atas, tepatnya di Bab Dua, untuk versi cetak terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, tahun 2006, hal 36.)

Rincian tersebut bisa jadi sangat relevan di saat para ulama yang mencetuskannya masih hidup, tapi di masa berikutnya bisa jadi kelompok yang dahulunya ada di kemudian hari sudah tidak ada lagi, bahkan yang terjadi justru muncul kelompok-kelompok baru dalam jumlah banyak yang tidak pernah ada sebelumnya, baik skala internasional seperti Ahmadiyyah maupun skala lokal Indonesia semisal aliran Salamullah.

Ke-tiga:
Ada selisih pada penyebutan terpecahnya umat Muhammad saw, sebagian riwayat menyebutkan 71, ada yang menyebutkan 72, sebagian lainnya menyebutkan 73, sebagian lagi menyebutkan tujuh pululuh sekian (kurang dari 79).

diantara yang menyebutkan 71 yaitu:
عن عائشة ابنة سعد ، عن أبيها ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : افترقت بنو إسرائيل على إحدى وسبعين ملة ، ولن تذهب الليالي والأيام حتى تفترق أمتي على مثلها.
Dari 'Aisyah bintu Sa'd, dari ayahnya berkata, Rasulullah saw bersabda: Bani Isroil telah terpecah menjadi tujuh puluh satu agama, dan tidak akan berlalu malam-malam dan hari-hari hingga umatku juga terpecah sejumlah itu. (HR. Al-Bazzar)

dan diantara yang menyebutkan 72 yaitu:
عن أنس قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن بنى إسرائيل افترقت على إحدى وسبعين فرقة وإن أمتى ستفترق على ثنتين وسبعين فرقة كلها فى النار إلا واحدة وهى الجماعة (أخرجه ابن ماجه ، وابن جرير) قال البوصيرى هذا إسناد صحيح رجاله ثقات .
Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda: Sungguh Bani Isroil telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan sungguh umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu (yang tetap dalam) jama'ah (HR. Ibn Majah dan Ibn Jarir), berkata Al-Bushiri: sanad riwayat ini shahih dengan para periwayat terpercaya.

عن عوف بن مالك قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : افترقت بنو إسرائيل على إحدى وسبعين فرقة وتزيد أمتى عليها فرقة ليس فيها فرقة أضر على أمتى من قوم يقيمون الدين برأيهم فيحلون ما حرم الله ويحرمون ما أحل الله (أخرجه الطبرانى ، وابن عدى ، والخطيب ، وابن عساكر عن عوف بن مالك) . قال الهيثمى : رجاله رجال الصحيح .
Dari 'Auf bin Malik berkata: Rasulullah saw bersabda: Bani Isroil telah terpecah menjadi tujuh puluh satu kelompok, dan umatku menambahi (jumlah tersebut) satu (menjadi tujuh puluh dua), tidak ada diantaranya suatu kelompok pun yang lebih berbahaya dari umatku daripada kaum yang menegakkan agama berdasarkan pendapat mereka, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah swt, dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah swt (HR. Thobroni, Ibn 'Adi, Al-Khothib, dan Ibn 'Asakir). Al-Haitsami berkata: para perowinya para perowi hadits shahih.

عن أنس قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن بنى إسرائيل تفرقت على إحدى وسبعين فرقة فهلكت سبعون فرقة وخلصت فرقة واحدة وإن أمتى ستفترق على اثنتين وسبعين فرقة وتخلص فرقة قيل يا رسول الله من تلك الفرقة قال الجماعة الجماعة
Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw bersabda: Sungguh Bani Isroil telah terpecah menjadi tujuh puluh satu kelompok, kamudian tujuh puluh kelompok diantaranya binasa, dan satu kelompok yang selamat, dan sungguh umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh dua kelompok, hanya satu kelompok yang selamat. dikatakan: wahai Rasulullah saw, siapa kelompok (yang selamat) tersebut?, beliau menjawab: (yang berada dalam) jama'ah jama'ah. (HR. Ahmad). berkata Al-Munawi: sanadnya hasan.

Dan diantara yang menyebutkan 73 adalah:
عن معاوية قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن أهل الكتابين افترقوا فى دينهم على ثنتين وسبعين ملة وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة وكلها فى النار إلا واحدة وهى الجماعة ...
Dari Mu'awiyah, Rasulullah saw bersabda: Ahli Kitab yang dua (Yahudi dan Nasrani) telah terpecah dalam agama mereka menjadi 72 agama (aliran). dan sungguh umat ini akan terpecah menjadi 73 agama, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu (yang tetap dalam) jama'ah ... (HR. Ahmad, Ath-Thobaroni, dan Al-Hakim) Al-Munawi berkata: sanad milik Ahmad bagus.

عن معاوية قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ألا إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين وسبعين ملة وإن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون فى النار وواحدة فى الجنة وهى الجماعة وإنه سيخرج من أمتى أقوام تَجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارَى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله
Dari Mu'awiyah berkata, Rasulullah saw bersabda: Ketahuilah siapa-siapa dari Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah menjadi tujuh puluh dua agama (aliran), dan sungguh millah ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua diantaranya masuk neraka, sedangkan satu golongan masuk surga, mereka itu al-jama'ah... (HR. Abu Dawud dan Ad-Darimi)

عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليأتين على أمتي ما أتى على بني إسرائيل حذو النعل بالنعل حتى إن كان منهم من أتى أمه علانية لكان في أمتي من يصنع ذلك وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة قالوا ومن هي يا رسول الله قال ما أنا عليه وأصحابي . قال أبو عيسى هذا حديث حسن غريب .
Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda: Akan datang atas umatku apa yang telah datang atas Bani Isroil sejengkal demi sejengkal, hingga jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya secara terang-terangan maka di umatku juga akan ada yang melakukannya, dan sungguh Bani Isroil itu telah terpecah menjadi 72 agama (aliran), dan umatku akan terpecah menjadi 73 aliran, semuanya masuk neraka kecuali satu aliran. Para sahabat bertanya: aliran apa itu wahai Rasulullah?, Beliau menjawab: Apa yang aku dan sahabatku berpijak di atasnya. (HR. At-Tirmidzi) berkata Abu 'Isa: hadits ini hasan ghorib.

Adapun yang menyebutkan tujuh puluh sekian (على بضع وسبعين), adalah:
عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ستفترق أمتي على بضع وسبعين فرقة أعظمها فرقة قوم يقيسون الأمور برأيهم فيحرمون الحلال و يحللون الحرام . (أخرجه الحاكم) وقال: هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه
dari Auf bin Malik ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh sekian golongan, yang paling besar diantaranya kaum yang mengukur segala perkara dengan pendapat mereka, maka mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. (HR. Al-Hakim). Al-Hakim berkata: hadits ini shahih berdasarkan syarat Bukhori dan Muslim meski keduanya tidak mengeluarkannya.

Adanya selisih penyebutan angka dalam nash-nash shahih di atas, selain tidak bisa diketahui mana yang rojih dan mana yang marjuh, selain juga menyambung pembahasan point ke-dua (tidak memungkinkannya membatasi perpecahan yang terus bermunculan dari waktu ke waktu sehingga tidak bisa secara pasti menentukan 72 golongan itu siapa saja), maka penyebutan bilangan pada nash hadits tersebut bukan dalam rangka membatasi perpecahan yang akan terjadi.

Kasus semcam ini juga ada dalam Al-qur’an, yaitu surat At-taubah ayat 80, disebutkan:
اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS. At-Taubah [9]: 80)

Penyebutan bilangan 70 dalam ayat tersebut bukan berarti pembatasan, dengan artian jika saja Rasulullah saw memintakan ampun bagi orang kafir yang sudah meninggal dengan jumlah lebih dari 70 kali, maka akan diterima oleh Allah swt dan si kafir akan diampuni.

Mempertegas hal itu, dalam shahih Bukhori (pada peristiwa matinya Abdullah bin Ubai bin Salul al-munafiq) Rasulullah saw bersabda:

لَوْ أَعْلَمُ أَنِّي إِنْ زِدْتُ عَلَى السَّبْعِينَ يُغْفَرْ لَهُ لَزِدْتُ عَلَيْهَا
Jika aku tahu bahwa apabila aku tambah (istighfar) melebihi 70 kali (itu bermanfaat), niscaya sudah aku tambahkan atasnya. (HR. Bukhori)

Imam Ibn Katsir memberikan keterangan dalam kitab tafsirnya:
إن السبعين إنما ذكرت حسما لمادة الاستغفار لهم؛ لأن العرب في أساليب كلامها تذكر السبعين في مبالغة كلامها، ولا تريد التحديد بها، ولا أن يكون ما زاد عليها بخلافها.
Sesungguhnya bilangan 70 itu disebutkan semata-mata untuk memotong (kebolehan) memintakan ampunan untuk mereka, karena orang Arab dalam gaya bicaranya menyebutkan bilangan 70 untuk tujuan mubalaghoh (penekanan) dari pembicaraan mereka, dan bukan dimaksudkan pembatasan, sehingga tidak berarti jika lebih dari itu maka yang berlaku sebliknya. (Tafsir Ibn Katsir: 4/188) 

Dan dalam ayat lain dikatakan:
سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. Al-Munafiqun [63]: 6)

Jadi penyebutan 70 disitu bukan sebagai pembatasan, melainkan sebagai mubalaghoh dalam memperbanyak istighfar, yang artinya tidak lain adalah meskipun Rasulullah memintakan ampunan lebih dari 70 kali, bahkan ribuan atau jutaan kali, tetap Allah swt tidak akan mengampuni orang yang mati dalam keadaan kafir.

Demikian pula penyebutan angka pada hadits terpecahnya umat Islam menjadi 70 golongan lebih, bukan dalam rangka membatasi melainkan sebagai mubalaghoh atas banyaknya perpecahan yang telah terjadi pada umat Yahudi dan Nashrani, dan yang akan terjadi pada umat Islam.

Adapun selisih antara perpecahan yang terjadi pada umat Yahudi, Nashrani dan Islam, semata-mata menunjukkan bahwa perpecahan di tubuh umat Islam akan lebih banyak dari perpecahan yang telah terjadi di antara para ahli kitab, urutan terbanyak kedua Nasrani dan yang terakhir Yahudi.

Ke-empat:
Apa yang bisa diambil dari nash hadits tersebut? Yaitu mewaspadai terjadinya perpecahan yang tidak diridhoi oleh Allah swt, karena yang demikian itu telah terjadi pada umat-umat terdahulu. Perpecahan yang dimaksud adalah perbedaan dalam perkara ushul (pokok), baik ushul akidah maupun ushul syari’ah, atau perpecahan pada kesatuan umat. Adapun terbentuknya banyak madzhab fiqhiyyah, partai dan ormas islami, dll selama terbebas dari perpecahan di atas maka bukan termasuk yang dilarang.

Kalaupun perpecahan tersebut harus terjadi, maka kita harus berpegang teguh pada solusi yang diberikan oleh Rasulullah saw:

As-Sawad Al-A'zham atau Al-Jama’ah, yaitu sabar dan teguh dalam kesatuan kaum muslimin di bawah kepemimpinan seorang imam/ khalifah/ amir.
عن ابن عباس يرويه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم من رأى من أميره شيئا فكرهه فليصبر فإنه ليس أحد يفارق الجماعة شبرا فيموت إلا مات ميتة جاهلية
Dari Ibn Abbas, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa melihat sesuatu pada Amirnya lalu membencinya maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya tidak seorang pun yang memisahkan diri dari Jama'ah kemudian ia mati melainkan ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah. (HR. Bukhori)

Berikut nukilan perkataan Imam At-Tirmidzi:
قال الترمذي وتفسير الجماعة عند أهلا العلم (هم أهل الفقه والعلم والحديث): الاعتصام ومعنى السواد الأعظم: - المجتمعون على إمام يحكم بالكتاب والسنة وينصر الحق وأهله.
At-Tirmidzi berkata: tafsir dari kata Jama'ah menurut Ulama (yaitu mereka ahli fiqh, ilmu, dan hadits)yaitu berpegang teguh, dan makna As-Sawad Al-A'zham adalah orang-orang yang berhimpun pada seorang Imam yang menerapkan hukum Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta menolong kebenaran dan pengembannya. (Shahih Kunuz As-Sunnah An-Nabawiyyah 1/212)

Jika kaum muslimin tidak memiliki imam atau kesatuan pemimpin, maka di hadits berikut ini telah dinyatakan solusinya:
عن حذيفة بن اليمان يقول كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير من شر قال نعم قلت وهل بعد ذلك الشر من خير قال نعم وفيه دخن قلت وما دخنه قال قوم يهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر قلت فهل بعد ذلك الخير من شر قال نعم دعاة على أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها قلت يا رسول الله صفهم لنا قال هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا قلت فما تأمرني إن أدركني ذلك قال تلزم جماعة المسلمين وإمامهم قلت فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام قال فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك .
Dari Hudzaifah bin Yaman berkata, orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir akan menimpaku, maka aku katakan: wahai Rasulullah saw, kami dahulu berada dalam masa jahiliyyah dan keburukan, kemudian Allah swt datangkan kebaikan ini (Islam), lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? beliau berkata: Ya. aku berkata: dan apakah setelah keburukan tesebut ada kebaikan lagi? beliau berkata: Ya, dan di masa itu ada asap (bertanda polusi). aku bertanya: apa asapnya? beliau menjawab: kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, kamu mengenali di antara mereka dan mengingkarinya. aku bertanya: apakah setelah kebaikan itu ada keburukan? beliau menjawab: Ya, para pendakwah di depan pintu-pintu neraka jahannam, siapa yang memenuhi seruan mereka maka mereka akan melemparkannya kedalamnya (neraka). aku bertanya: gambarkanlah (tentang mereka) kepada kami wahai Rasulullah saw. Beliau berkata: mereka adalah dari kalangan bangsa kita, berkata-kata dengan bahasa kita pula. aku bertanya: lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku di masa itu? beliau bersabda: berpegang teguhlah terhadap jama'ah kaum muslimin dan imam mereka (khilafah). aku berkata: bagaimana jika mereka tidak lagi memiliki jama'ah dan imam? beliau berkata:maka jauhilah kelompok-kelompok (yang menyeru kepada kesesatan) tersebut seluruhnya, sekalipun kamu harus menggigit akar pohon hingga kematian menjumpaimu sedangkan kamu dalam kondisi seperti itu. (HR. Bukhori)

yaitu untuk meninggalkan kelompok-kelompok sesat yang menyerukan kepada neraka, betapapun mereka dari kalangan kita (هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا). Lalu bagaimana dengan kelompok-kelompok yang menyerukan kepada islam dan syari'atnya? tentu mereka tidak termasuk yang disebut sebagai (دعاة على أبواب جهنم), selama apa yang diserukannya benar berdasarkan petunjuk Allah swt dan Rasul-Nya.

Dan menurut riwayat At-Tirmidzi, berusaha agar seperti apa yang Nabi saw dan para sahabatnya berada diatasnya, yaitu keberislaman secara I’tiqodi dan ‘Amali yang sesuai dengan apa yang dijalani oleh Nabi saw dan para sahabat terdahulu.

Wallahu A'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar